<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3546321369976042990</id><updated>2011-12-26T19:50:29.963-08:00</updated><title type='text'>Shantigriya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://shantigriya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Shantigriya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15407283631930615521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3546321369976042990.post-7361618341777959267</id><published>2009-08-13T06:00:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T06:01:55.367-07:00</updated><title type='text'>Korelasi Bumi dan Manusia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Terdorong oleh &lt;br /&gt;  konsepsi-konsepsi tertentu dalam agama-agama tertentu maka banyak diantara kita &lt;br /&gt;  yang terpengaruh dengan konsep bahwasanya manusya adalah &amp;#8220;ciptaan yang &lt;br /&gt;  paling mulia&amp;#8221; diatas muka bumi ini, karena berbeda secara fisik, intelektual, &lt;br /&gt;  buddhi dan kesadarannya. Padahal segala kesusahan, peperangan, korupsi, kebatilan, &lt;br /&gt;  pengrusakan bumi antar manusya sendiri rasanya disampingkan begitu saja karena &lt;br /&gt;  terbius dengan konsep kemuliaan manusya yang tidak jelas keberadaannya. &lt;/font&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Baik Vedanta maupun &lt;br /&gt;  Al-quran, atau Smriti maupun Sruti jelas-jelas memposisikan berbagai fauna dan &lt;br /&gt;  flora sebagai penunjang vital kehidupan manusya itu sendiri. Tanpa bumi maka &lt;br /&gt;  Panca Bhutam dan fauna flora manusya tidak mungkin eksis, toh kita malahan sering &lt;br /&gt;  merasa amat superior dibandingkan dari mahluk-mahluk lain, dan tidak segan-segan &lt;br /&gt;  mengorbankan mahluk-mahluk ini demi ego dan hasrat-hasrat kita yang tidak pernah &lt;br /&gt;  terpuaskan. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Banyak yang merasa &lt;br /&gt;  terhina bahkan ragu-ragu kalau ditegur bahwasanya semua ciptaan di dunia ini &lt;br /&gt;  sebenarnya saling menunjang dan sama mulia dan derajatnya di mata Sang Pemelihara &lt;br /&gt;  Alam (Prajapati). Sayangnya lagi sebagian kaum spiritualis kita gemar mecaru &lt;br /&gt;  atas nama agama bahkan &amp;#8220;memperdagangkan&amp;#8221; upacara-upacara ini tanpa &lt;br /&gt;  memikirkan akibat karma-karma buruk mereka sendiri karena terkena oleh konsep-konsep &lt;br /&gt;  yang tidak masuk akal. Kalau sebagian kaum pendeta kita masih hidup di zaman &lt;br /&gt;  Rig Weda, maka kaum intelektual Barat dan Timur telah memulai pelestarian alam &lt;br /&gt;  dengan berbagai inisiatif-inisiatif modern, termasuk eks wakil Presiden USA &lt;br /&gt;  AL GORE, yang konon akan diangkat menjadi Penasehat Khusus Lingkungan Hidup &lt;br /&gt;  Presiden USA yang baru yaitu OBAMA. Akhir-akhir ini mass media Barat sering &lt;br /&gt;  melaporkan studi-studi ilmiah yang menyatakan bahwasanya ikan paus yang banyak &lt;br /&gt;  diburu Jepang dan berbagai jenis tanaman-tanaman khusus ternyata memiliki kesamaan-kesamaan &lt;br /&gt;  yang amat mirip dengan manusya. Bahkan dikatakan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan &lt;br /&gt;  dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Hindu Dharma telah lama menegaskan &lt;br /&gt;  hal ini semenjak ribuan tahun yang lalu. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Raja Vikramajit (dikenal &lt;br /&gt;  sebagai Sulaiman atau Solomon di Timur Tengah) adalah pakar bahasa yang dapat &lt;br /&gt;  berkomunikasi dan memahami bahasa-bahasa segala fauna dan flora, demikian juga &lt;br /&gt;  Raja Parikesit. Kembali ke para peneliti modern , mereka juga menemukan bahwasanya &lt;br /&gt;  ada tumbuh-tumbuhan yang saling mengirimkan signal-signal ke teman-temannya &lt;br /&gt;  pada saat bahaya, ada yang bahkan sanggup mengeluarkan racun-racun tertentu &lt;br /&gt;  demi pertahanan diri. Cara berkomunikasi mereka konon menggunakan gelombang-gelombang &lt;br /&gt;  (elektromagnetik) radio kata para ahli-ahli ini. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Tidak asing lagi &lt;br /&gt;  kalau kita merawat ternak sapi ataupun bunga-bungaan dengan musik dan sentuhan &lt;br /&gt;  &amp;#8211; sentuhan tangan bahkan dengan bicara lemah lembut, hasilnya susu makin &lt;br /&gt;  banyak, hewan makin jinak dan kooperatif dan tanaman-tanaman berbunga dan berbuah &lt;br /&gt;  lebat, Menurut beberapa nara sumber (ahli-ahli spiritual) dan penelitian barat, &lt;br /&gt;  ada jenis-jenis tanaman tertentu yang mampu menstransfer energi positif dan &lt;br /&gt;  spiritual ke manusya. Kita umat dharma kenal akan keampuhan pohon Beringin, &lt;br /&gt;  Boodhi, Tulasi dan Sirih dan berbagai aroma therapi dari bunga-bunga yang wangi &lt;br /&gt;  seperti mawar, melati, sandat, cempaka dst yang juga amat ampuh sebagai sarana &lt;br /&gt;  spiritual penghantar aura-aura yang positif bagi sekitarnya, namun pepohonannya &lt;br /&gt;  sendiri ternyata memiliki prana yang amat kuat bagi sekitarnya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Mahluk-mahluk yang &lt;br /&gt;  selama hidupnya berguna dilahirkan kembali sebagai manusya-manusya atau mahluk-mahluk &lt;br /&gt;  yang berguna juga pada kelahiran-kelahiran berikutnya, demikian juga sebaliknya &lt;br /&gt;  (sesuai teori karma dan reinkarnasi yang kita fahami selama ini). Namun kalau &lt;br /&gt;  dievaluasi secara cermat &lt;br&gt;&lt;br /&gt;  ternyata kelahiran sebagai flora fauna belum tentu merupakan hukuman, namun &lt;br /&gt;  lebih bersifat pembelajaran sekaligus pemanfaatan demi lestarinya bumi dan isinya. &lt;br /&gt;  Semua ciptaan di bumi ini saling menunjang, kalau benar demikian maka Sang Pencipta &lt;br /&gt;  adalah benar-benar Maha Pengasih, dan bumi maha pelestari semua ciptaan-ciptaanNya &lt;br /&gt;  secara sistematis dengan perhitungan yang amat cermat. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Bhagawat-Gita dan &lt;br /&gt;  berbagai Sastra-shastra Widhi lainnya mengatakan bahwasanya di dunia ini semua &lt;br /&gt;  mahluk menyiratkan hidup dan mati secara berulang-ulang, dan proses ini berkesinambungan &lt;br /&gt;  tanpa dapat dibendung oleh siapapun juga : &amp;#8220;Wahai Arjuna, berbagai mahluk-mahluk &lt;br /&gt;  yang berlimpah &amp;#8211; ruah ini pergi secara terus menerus, lahir dan lahir &lt;br /&gt;  lagi tanpa daya, dan terserap lagi menjelang tibanya malam Sang Brahma, dan &lt;br /&gt;  lagi pada pagi harinya Sang Brahma, mahluk-mahluk yang berlimpah ruah ini mengalir &lt;br /&gt;  keluar lagi (ber-reinkarnasi).&amp;#8221;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  Bhagawat Gita VIII &amp;#8211; sloka19 &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  Jadi sepertinya ada persamaan persepsi antara Barat dan Timur bahwasanya tidak &lt;br /&gt;  ada yang baru di semesta dan bumi ini. Reinkarnasi adalah sebuah rekayasa proses &lt;br /&gt;  untaian perputaran dan daur ulang yang amat canggih yang amat bermanfaat bagi &lt;br /&gt;  semua ciptaan termasuk manusia dan sekelilingnya, bukan hanya untuk manusia &lt;br /&gt;  saja (sistimatis alami).&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  Menurut Hwee-Yong Jang, (asal Korea Selatan) seorang ahli spiritual yang mampu &lt;br /&gt;  melihat masa depan nasib bumi dan manusya, maka bumi sebenarnya adalah sebuah &lt;br /&gt;  wahana besar yang menampung berbagai reinkarnasi-reinkarnasi dari loka-loka &lt;br /&gt;  yang lain selama jutaan tahun. Bumi sekaligus adalah tempat pembelajaran terakhir &lt;br /&gt;  bagi mahluk-mahluk luar angkasa yang dilahirkan sebagai manusya dan mahluk-mahluk &lt;br /&gt;  maha- ragam, manusya diberikan kemampuan berpikir dan bertindak bebas namun &lt;br /&gt;  hal tersebut mungkin juga berlaku bagi fauna, flora, batu-batuan, dsb. Konon &lt;br /&gt;  Beliau berkata (sesuai dengan wahyu-wahyu dan penampakan-penampakan yang didapatkannya &lt;br /&gt;  dari mahluk-mahluk angkasa luar yang berdimensi empat ke atas) bahwasanya jutaan &lt;br /&gt;  tahun yang lalu sewaktu bumi pertama-tama diciptakan dalam bentuk materi seperti &lt;br /&gt;  saat ini, maka para mahluk-mahluk luar bumi yang ingin bermigrasi ke bumi telah &lt;br /&gt;  diberikan berbagai pilihan. Mereka pada era itu diperbolehkan menjadi manusya, &lt;br /&gt;  fauna, flora atau bentuk-bentuk lainnya, namun disesuaikan dengan frekwensi &lt;br /&gt;  dan kapasitas minimum dan maksimumnya masing-masing (Satya Yuga). Bukan kah &lt;br /&gt;  kisah Mandara Giri menyiratkan hal yang sama?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Namun dengan berlalunya &lt;br /&gt;  sang waktu jutaan tahun kemudian, lambat laun telah terjadi perubahan-perubahan &lt;br /&gt;  yang drastis dimana, para mahluk secara perlahan tidak dapat mengingat lagi &lt;br /&gt;  masa-masa lalunya karena mengalami berbagai evolusi dan degradasi! &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Bentuk-bentuk &amp;#8220;primitif&amp;#8221; &lt;br /&gt;  mengalami perubahan, keterampilan meningkat namun dengan semua perubahan-perubahan &lt;br /&gt;  ini manusyapun lalu bersikap tidak adil dan mengenaskan terhadap mahluk-mahluk &lt;br /&gt;  lain yang dianggapnya lebih inferior dari dirinya. Tetapi sistim (alam) alami &lt;br /&gt;  hukum - karma (hukum timbal balik universal) menuntut tanggung jawab dari manusya. &lt;br /&gt;  Di era Rig Weda misalnya sudah ada pembantaian binatang ternak sebagai pengorbanan &lt;br /&gt;  yang dianggap malahan mengangkat derajat hidup hewan-hewan bantaian tersebut &lt;br /&gt;  ke masa-masa kehidupan yang akan datang. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Namun pada akhir &lt;br /&gt;  era itu juga dan selanjutnya kita membaca adanya pengorbanan dalam bentuk pemberian &lt;br /&gt;  ternak dalam jumlah ribuan oleh raja-raja kepada para resi-resi agar dikembang-biakkan &lt;br /&gt;  demi pelestariaanya dan dibudidayakan manfaat susunya bagi masyarakat umumnya. &lt;br /&gt;  Pada akhir peperangan Mahabrata diadakan upacara Aswa Medha, yang konon katanya &lt;br /&gt;  mengorbankan jutaan ternak yang dibantai demi upacara tersebut. Namun setelah &lt;br /&gt;  itu Sri Krishna mendeklarasikan hadirnya Kaliyuga dan tidak akan ada pengorbanan &lt;br /&gt;  massal itu lagi di dunia ini.&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Kembali ke pembantaian &lt;br /&gt;  jutaan hewan maka hewan-hewan ini dikembalikan lagi hidupnya sebagai manusya, &lt;br /&gt;  namun di dalam diri mereka ternyata hadir unsur-unsur balas dendam. Hilang lalu &lt;br /&gt;  keinginan untuk bereinkarnasi secara bebas, &lt;br&gt;&lt;br /&gt;  tergantikan dengan reinkarnasi berdasarkan hukum karma. Itulah sebabnya kita &lt;br /&gt;  tidak mengenal istilah hukum karma di sebagian Weda-weda, tetapi teori ini baru &lt;br /&gt;  muncul di era Upanishad dan dipertegas di Bhagawat-Gita. Timbullah kemudian &lt;br /&gt;  sistim reinkarnasi yang multi kompleks dan membingungkan. Manusya dan para mahluk &lt;br /&gt;  sudah tidak dapat memilih lagi untuk dilahirkan sebagai apa yang dimauinya tetapi &lt;br /&gt;  langsung terseret oleh karma-karmanya sendiri yang kemudian diatur sistim alam &lt;br /&gt;  dan dilahirkan kembali melalui proses &amp;#8220;balas-membalas&amp;#8221; hidup-pun &lt;br /&gt;  lalu jadi menakutkan dan mengerikan seperti yang kita alami dewasa ini (peperangan, &lt;br /&gt;  penyakit yang mematikan, bencana dsb yang seakan-akan makin memuncak dengan &lt;br /&gt;  memuncaknya jumlah umat manusya di bumi ini), dan terakhir dengan pemanasan &lt;br /&gt;  global yang sedang menjurus ke pralaya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Penelitian spiritual &lt;br /&gt;  juga sering sekali menemukan adanya frekwensi-frekwensi rendah pada manusya &lt;br /&gt;  dan sebaliknya terdeteksi juga frekwensi-frekwensi tinggi pada sebagian hewan &lt;br /&gt;  contoh ikan paus, pengquin, kura-kura, anjing, kucing, lumba-lumba, semut, lebah &lt;br /&gt;  dsb. Namun pada saat ini hanya manusya yang mayoritas mendapatkan kesadaran &lt;br /&gt;  spiritual melalui proses pembelajaran, mahluk-mahluk lain ditingkatkan frekquensi &lt;br /&gt;  spiritualnya melalui kelahiran sebagai manusya secara berulang-ulang! &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Flora dan fauna yang &lt;br /&gt;  belum terbentuk sebagai manusya hanya dapat menunggu dengan kesabaran dan toleransi &lt;br /&gt;  dari manusya-manusya yang tersadarkan agar merekapun dapat dilahirkan sebagai &lt;br /&gt;  manusya yang beradab dan berpikir kemanusiaan. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Diantara manusya-manusya &lt;br /&gt;  yang tersadarkan, hanya sedikit sekali yang memiliki frekwensi spiritual yang &lt;br /&gt;  tinggi, dan jenis manusya ini dianggap&amp;#8221;tidak waras dan melenceng&amp;#8221; &lt;br /&gt;  oleh masyarakat pada umumnya yang memiliki frekwensi spiritual rata-rata saja. &lt;br /&gt;  Jangankan kaum spiritualis, Socrates, Einstein, Newton saja dianggap tidak waras, &lt;br /&gt;  ada yang malah dipenggal karena mengajarkan kebenaran dan teori perputaran bumi &lt;br /&gt;  versus matahari. Namun konon ada suatu saat lagi menurut kaum spiritualis ini, &lt;br /&gt;  dimana sebagian besar manusya yang tersisa dari pralaya akan menyadari betapa &lt;br /&gt;  mahluk-mahluk di bumi sebenarnya sederajat dengan manusya itu sendiri, karena &lt;br /&gt;  merupakan mata rantai kehidupan yang berkesinambungan secara sistematis (Bhagawat-Gita). &lt;br /&gt;  &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Pada saat ini sebagian &lt;br /&gt;  besar manusya masih gemar menyantap mahluk-mahluk lain, merusak habitat dan &lt;br /&gt;  hutan-hutan demi pemuasan ekonomi, ego, dan nafsu-nafsunya sendiri, peperangan &lt;br /&gt;  antar manusya itu sendiri adalah salah satu faktor ego yang tidak &lt;br&gt;&lt;br /&gt;  terpuaskan yang merupakan lingkaran karma yang tidak pernah putus-putus. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Di tengah manusya &lt;br /&gt;  yang kacau balau ini lahir juga reinkarnasi-reinkarnasi agung (Awatara) yang &lt;br /&gt;  menurut para peneliti adalah mahluk-mahluk superior dengan dimensi ke empat &lt;br /&gt;  bahkan ke lima. Manusya-manusya super ini mampu melakukan berbagai keajaiban &lt;br /&gt;  dengan cara-cara yang tidak masuk akal para saintis. Di dunia ini rekayasa spiritual &lt;br /&gt;  ini sering disebut sebagai &amp;#8220;pekerjaan iblis&amp;#8221; oleh kaum tertentu &lt;br /&gt;  yang merasa dirinya benar di jalan Tuhan yang dianutnya, padahal iblis dan Tuhan &lt;br /&gt;  itu sendiri masih sulit dijabarkan wujud-wujudnya oleh mereka sendiri, yang &lt;br /&gt;  terjebak pada frekwensi-frekwensi spiritual yang rendah. (manusya adalah ciptaan &lt;br /&gt;  dalam wujud tiga dimensi). &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Jadi tidak mengherankan &lt;br /&gt;  jika ditengah-tengah kita hadir manusya-manusya jenius superior secara sains &lt;br /&gt;  maupun spiritual, karena dimensi-dimensi yang lebih tinggi di alam ini mengatur &lt;br /&gt;  pola gerak dan hidup dimensi-dimensi yang lebih rendah. Perhatikan ciri-ciri &lt;br /&gt;  kaum suci, resi dan para nabi-nabi, mereka semua memiliki ciri yang hampir sama &lt;br /&gt;  baik dalam cara, pola berpikir, maupun berperilaku, rata-rata mereka tidak seperti &lt;br /&gt;  manusya-manusya pada umumnya. Pada masa Satya - Yuga semua manusya, fauna dan &lt;br /&gt;  flora berprilaku seperti itu, dan saat ini masih hadir juga hewan dan tumbuh-tumbuhan &lt;br /&gt;  dengan frekwensi-frekwensi tinggi, kalau tidak sudah lama bumi ini punah! &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Kalau anda pada suatu &lt;br /&gt;  saat menemukan seseorang atau suatu peristiwa gaib maupun spiritual, hal tersebut &lt;br /&gt;  belum tentu kebetulan. Tetapi &amp;#8220;pribadi&amp;#8221; yang lebih tinggi frekwensinya &lt;br /&gt;  ini ingin menyampaikan &amp;#8220;pesan&amp;#8221; tertentu bagi persiapan masa depan &lt;br /&gt;  spiritual anda sendiri, manusya atau mahluk agung ini kemudian akan menghilang &lt;br /&gt;  setelah tugasnya untuk anda selesai.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Konsentrasi dan pemfokusan &lt;br /&gt;  pikiran, doa-doa dan puja-puji yang positif adalah salah satu kekuatan (energi) &lt;br /&gt;  prana yang dapat kita pakai untuk menghubungi dewa-dewa atau mahluk-mahluk dengan &lt;br /&gt;  frekwensi-frekwensi tertentu. Namun saya tidak akan pernah menganjurkan hal &lt;br /&gt;  ini, karena bagi saya lebih baik &amp;#8220;dihubungi&amp;#8221; daripada &amp;#8220;menghubungi&amp;#8221; &lt;br /&gt;  yang dapat salah sasaran dan menghasilkan visualisasi yang menakutkan. Konsentrasi &lt;br /&gt;  dan puja-puja ke Sang pencipta dalam wujud apapun adalah yang terbaik menurut &lt;br /&gt;  penelitian saya secara pribadi, dan tanpa pamrih akan menghasilkan sesuatu yang &lt;br /&gt;  menakjubkan &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;tanpa diminta, tetapi &lt;br /&gt;  jangan lalu masuk ke Siddhi (prilaku penuh pamrih yang berarti tersesat). &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Hindari Agni Hotra &lt;br /&gt;  yang berlebih-lebihan dan mahal plus dan penuh pamrih tanpa tujuan-tujuan yang &lt;br /&gt;  jelas, hindari mantram-mantram untuk memperoleh anti bala, hujan dan demi ilmu &lt;br /&gt;  hitam, karena ada hukum karma-karmanya masing-masing. Apapun &amp;#8220;manfaat &lt;br /&gt;  atau mudaratnya&amp;#8221;, besar atau kecil, semua harus dibayar tuntas sekarang &lt;br /&gt;  atau nanti, tidak ada yang gratis di dunia, tidak juga hidup ini dengan segala &lt;br /&gt;  ekses-eksesnya! &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Dengan selalu mendoakan &lt;br /&gt;  semua mahluk maka akan dihasilkan korelasi positif, aman dan nyaman dengan alam &lt;br /&gt;  dan segala isinya. Om Sarwam Bhutam Mangalam (semoga seluruh ciptaan sejahtera). &lt;br /&gt;  Om Shanti Shanti Shanti Om. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;font face="Arial, Helvetica, sans-serif"&gt;Mohan M.S&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  Cisarua, Shanti Griya Ganesha Pooja&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  22 &amp;#8211; 2 - 09&lt;br&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3546321369976042990-7361618341777959267?l=shantigriya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shantigriya.blogspot.com/feeds/7361618341777959267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/korelasi-bumi-dan-manusia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/7361618341777959267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/7361618341777959267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/korelasi-bumi-dan-manusia.html' title='Korelasi Bumi dan Manusia'/><author><name>Shantigriya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15407283631930615521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3546321369976042990.post-3631478237751830437</id><published>2009-08-08T21:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T21:32:19.881-07:00</updated><title type='text'>TRI GUNAS</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;“Ketiga sifat-sifat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; alami yaitu Sattvas (baik dan suci), Rajas (antara baik dan buruk), Tamas (kekotoran,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; keburukan) lahir dari Prakirti (ilusi maya nan duniawi), mereka bertiga mengikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; erat-erat Sang Atman (Yang Tidak Terbinasakan) yang bersemayam di dalam raga”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Bhagawat Gita XIV, sloka 5 &lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering para sishya maupun rekan-rekan baik dari golongan Dharma maupun agama-agama&lt;br /&gt;lain bertanya apakah di Hindu Dharma ada fatwa-fatwa haram, halal dsb? Saya&lt;br /&gt;jawab “Tidak ada! Yang ada adalah keterangan-keterangan sifat-sifat alami&lt;br /&gt;yang disebut Sattva, Rajas dan Tamas, seperti yang diuraikan Bhagawat –&lt;br /&gt;Gita di bab XIV,” namun keterangan-keterangan ini harus dijadikan patokan&lt;br /&gt;dan pedoman untuk umat sedharma dalam berprilaku sehari-hari termasuk merokok,&lt;br /&gt;berjudi, menipu dst. Semua pedoman dikembalikan melalui proses pembelajaran&lt;br /&gt;diri, bhisama atau fatwa memang diperlukan! Tetapi tanpa pembelajaran dan kesadaran&lt;br /&gt;masing-masing semua terasa hampa dan sia-sia. Toh pedoman harus dimulai dari&lt;br /&gt;para pendeta yang berjubah putih-suci, bukan dari yang sehari-hari menonton&lt;br /&gt;perilaku mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sabda sahabatku Pedanda&lt;br /&gt;Sebali: “PHDI belum perlu ikut-ikutan latah melarang merokok, Triguna&lt;br /&gt;saja umat kita belum faham,” proses pembelajarannya mungkin sedang berjalan&lt;br /&gt;“slow but sure”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tanpa pengetahuan&lt;br /&gt;akan faham-faham Triguna, maka umat kita dan turunannya mungkin masih harus&lt;br /&gt;siap bersahabat dengan judi, penyakit-penyakit yang mematikan seperti hipertensi,&lt;br /&gt;TBC, jantung, diabetes, dsb. Apa yang dapat dibanggakan seorang Hindu kalau&lt;br /&gt;berpenyakitan? Kalau raga saja sakit-sakitan apa mungkin jiwanya sehat? Maka&lt;br /&gt;hadirlah upacara-upacara non sattvik seperti pembantaian hewan, tajen, berjudi,&lt;br /&gt;tawuran antar warga dan umat, dan semua itu akibat dari “pembodohan agama&lt;br /&gt;yang berkepanjangan!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sesuai sabda-sabda&lt;br /&gt;Sri Khrisna kepada Rsi Abhiyasa (Wiyasa) yang tertuang sebagai dialog antara&lt;br /&gt;Krishna-Arjuna, maka ketiga gunas ini lahir dari Prakirti yaitu rekayasa materi-dunia&lt;br /&gt;Nya yang memang dihadirkan dominan di dalam diri kita masing-masing. Seandainya&lt;br /&gt;sifat-sifat ini diberdayakan secara positif, maka hasilnya loka-loka yang menakjubkan,&lt;br /&gt;seandainya dipergunakan secara negatif maka si pelaku melaju ke neraka atau&lt;br /&gt;kehidupan-kehidupan yang lebih merana. Di atas kedua upaya itu, sabda Krishna,&lt;br /&gt;barang siapa mampu melewati ketiga guna ini, akan mendapatkan “Air abadi&lt;br /&gt;dan penyatuan dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa)”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Apakah Sattva itu?&lt;br /&gt;Konon sattva dikategorikan sebagai unsur-unsur kesucian dan kemurnian atau pencerahan&lt;br /&gt;kearah spiritual yang bersangkutan. Namun walau disebut-sebut kemurnian toh,&lt;br /&gt;sifat ini dapat mengikat diri kita kearah kebodohan (awidya) dan “ego&lt;br /&gt;yang positif “ yang malah menjerat diri kita sendiri, Penyucian diri yang&lt;br /&gt;berlebih-lebihan merubah seorang tersebut menjadi ortodok (fanatik dan melajulah&lt;br /&gt;ia ke dalam siddhi (kesesatan akibat kesaktian dan salah persepsi), Semua ini&lt;br /&gt;lalu membuat seorang itu terikat erat pada perilaku kebaikan-kebaikannya tetapi&lt;br /&gt;tidak membuatnya berorientasi kepada Yang Maha Esa secara murni, padahal sifat&lt;br /&gt;dasar mereka ini seharusnya sattvik (suci, bersih), demikian uraian almarhum&lt;br /&gt;resi T.L Vaswani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya di dunia Barat, terdapat banyak ilmuwan-ilmuwan hebat dengan prilaku&lt;br /&gt;sattvik, tetapi tujuan hidup dan riset-riset mereka hanya terpusat pada ilmunya&lt;br /&gt;saja secara ilmiah. Konsep Tuhan spiritual tidak ada dalam benak mereka. Sebaliknya&lt;br /&gt;di Timur ilmu - pengetahuan adalah anugrahNya yang tidak terbatas, jadi masih&lt;br /&gt;banyak manusya-manusya sattvik melepaskan ikatan-ikatan dunia, materi dsb untuk&lt;br /&gt;“back to basic” mencari penerangan Ilahi (Bhagawatam). Mereka-mereka&lt;br /&gt;yang non pamrih ini oleh guru resi T.L Vaswani disebut mulia karena unsur-unsur&lt;br /&gt;sattvik bagi mereka hanyalah sekedar alat-alat belaka bukan masalah apalagi&lt;br /&gt;harus terikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sifat rajas adalah pancaran dari energi, dinamisme, mobilitas, yang&lt;br /&gt;berarti berjuang penuh dengan rasa ingin tahu akan hidup dan pelaksanaan hidup&lt;br /&gt;ini, namun sering jatuhnya malah tidak pernah terpuaskan dengan segala aktivitas&lt;br /&gt;dan hasil-hasilnya. Dengan kata lain rajas yang tidak terkendali adalah anak&lt;br /&gt;dari nafsu-nafsu kita sendiri. Akhirnya jiwa-raga terikat erat-erat ke Sang&lt;br /&gt;Prakirti! Konon rajas pada seseorang dapat ditandai oleh kegelisahan internal&lt;br /&gt;dan eksternal. Sifat-sifat amat aktif, ambisius, demi pemuasan ego, nafsu, hasrat&lt;br /&gt;duniawinya, menunjukkan rajas sedang dominan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ia mungkin saja orang baik dan bertanggung jawab bagi diri dan lingkungannya,&lt;br /&gt;namun ia lupa tujuan kerja keras adalah untuk dan demi Sang Pencipta, bukan&lt;br /&gt;untuk kekurangan-kekurangannya: ambisi pribadi, dan tujuan-tujuan ego yang positif&lt;br /&gt;atau negatif. Namun kalau dinamisme dan keuletan rajasnya diolah tanpa pamrih&lt;br /&gt;maka segala usaha-usahanya berubah menjadi yagna (pengorbanan spiritual bagi&lt;br /&gt;YME), ia tidak memerlukan agni hotra, dsb lagi! Hotranya adalah diri dan nafsu-nafsunya&lt;br /&gt;yang terkendali tanpa pamrih. Sebaliknya sifat-sifat tamas (kekotoran) bukanlah&lt;br /&gt;energi positif tetapi cenderung menjadi energi negatif yang berpolusi tinggi&lt;br /&gt;bagi diri dan sekitarnya, tamas jauh dari kebersihan jiwa-raga apalagi kesucian.&lt;br /&gt;Tamas aktif sekali dengan sifat-sifat kemalasan, ilusi-ilusi kosong dan awidya&lt;br /&gt;yang berkepanjangan! Inilah kuasa tamas pada diri seseorang yang jelas terikat&lt;br /&gt;erat erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering sekali mereka-mereka yang berada di bawah kendali tamas berprilaku ibarat&lt;br /&gt;binatang-binatang buas yang kelaparan, ia memenuhi hasrat-hasrat dan nafsu-nafsu&lt;br /&gt;dengan segala cara. Ia malas berfikir dan bertindak secara positif, acuh tak&lt;br /&gt;acuh dan destruktif pada diri dan sekitarnya. Toh, Yang Maha Pengasih masih&lt;br /&gt;membuka jalan baginya kearah yang baik., melalui upaya-upaya dharma - bakti&lt;br /&gt;dan untuk itu diperlukan mereka-mereka yang bergelar satvik, resi, pedanda,&lt;br /&gt;juga pandita, bhujangga, pemangku dsb untuk menuntun mereka secara aktif (rajas)&lt;br /&gt;plus terarah positif (satvas). Gabungan kedua unsur ini yaitu dinamika dan kesucian&lt;br /&gt;pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif. Untuk itu harus dimulai dengan&lt;br /&gt;bhisama-bhisama satvik sebagai pedoman dan lalu ditambah proses pembelajaran&lt;br /&gt;yang aktif demi lestarinya dharma itu sendiri. Bukankah Sang Surya menerangi&lt;br /&gt;dan Sang Bayu bertiup juga di antara rerumputan liar dan semak belukar yang&lt;br /&gt;berada di bawah pepohonan besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakanlah pahala-pahala satvas dan rajas, berfokuslah ke bumi jangan ke sorga&lt;br /&gt;- neraka yang entah hadir dimana? Kuasailah dan fahami cara-cara kerja sattvas,&lt;br /&gt;rajas dan tamas, dari guru-guru spiritual yang handal, agar dapat melihat dengan&lt;br /&gt;jelas, benar dan secara realitas. Ini disebut logika duniawi dan spiritual sekaligus.&lt;br /&gt;Orang yang sadar ini akan masuk ke suatu dimensi yang lain, kata Krishna, yaitu&lt;br /&gt;lepas dari kematian, kehidupan, usia tua, penderitaan dsb karena telah meneguk&lt;br /&gt;(“air kehidupan”) yang abadi (widya dalam amerta). Bagi seseorang&lt;br /&gt;yang semacam ini ke tiga gunas hanyalah jembatan kearah pancaran kasih Yang&lt;br /&gt;Maha Esa, ia yang sudah “menyebrangi” jembatan-jembatan ini (ketiga&lt;br /&gt;gunas), malahan mampu mengendalikan segala “spare-parts” sang jembatan,&lt;br /&gt;karena telah menyatu dan memahami cara-cara kerja sang jembatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon guru selanjutnya berwacana, bahwasanya manusya agung yang telah tersadarkan&lt;br /&gt;ini berubah menjadi “majikan” yang mampu menguasai bahkan memperalat&lt;br /&gt;sifat-sifat alam ini, tanda-tanda dan ciri-cirinya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ia bersifat sama rata kepada semua sifat-sifat gunas baik yang hadir di dalam&lt;br /&gt;dirinya sendiri maupun di dalam orang-orang lain. 2. Ia tidak terusik oleh efek&lt;br /&gt;dan dampak-dampak karma baik maupun buruk diri sendiri dan orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Baginya setiap unsur dsb adalah sama saja, ia bersikap sama rata kepada suka-duka,&lt;br /&gt;panas-dingin, teman-musuh, penghormatan-penghinaan, cinta-benci, dsb. Emas atau&lt;br /&gt;loyang sama saja baginya, sama-sama ciptaan sederajat dari Sang Pencipta tidak&lt;br /&gt;ada yang lebih mulia atau lebih hina (baca Bhagawat-Gita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ambisi tidak lagi eksis dalam dirinya, setiap pekerjaannya telah terlebur&lt;br /&gt;sebagai dharma-bhakti ke Yang Maha Esa, kadar dan mutunya juga sama saja, tidak&lt;br /&gt;ada pendosa atau yang agung, yang ada hanya Dia Semata dan segala ciptaan-ciptaanNya&lt;br /&gt;dan berbagai improvasi dan nada-nadaNya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Lalu apa saja upaya-upaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; seseorang agar dapat melampaui ke tiga gunas ini dan menyatu denganNya? Konon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; guru bersabda lakukanlah pengabdian-pengabdian terus menerus tanpa henti dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tanpa pamrih, mengabdilah padaNya dengan kasih-nan-tulus, bukan melalui “business&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; of God”, dan lambat laun dikau akan larut menjadi nol (0) kecil yang melebur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; ke nol besar. Proses ini disebut Atma-Swarupa, bersatunya secara identik Sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Jiwa dengan Sang Pemilik Jiwa (Atman-Brahman).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; “Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; tidak pernah ada habis-habisnya, Akulah fondasi dari Kebenaran nan abadi dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; sumber dari Anugrah-nan-tanpa akhir”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; (Bhagawat – Gita XIV, sloka 27)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Yang Maha Pencipta, disebut apa juga nama dan asal-usulnya adalah Keabadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; itu sendiri, Dharma dan Sang Dharma itu sendiri, dan Wara Nugraha yang tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; pernah berakhir, tidak sekarang tidak juga nanti, Ia adalah Berkah Nan Hakiki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; Om Shanti Shanti Om. Om Tat Sat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mohan M.S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di ShantiGriya Ganesha Pooja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cisarua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/Sn5Q764RS3I/AAAAAAAAAA8/9J66-9fAPzg/s1600-h/tri+gunas.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/Sn5Q764RS3I/AAAAAAAAAA8/9J66-9fAPzg/s320/tri+gunas.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367816796219984754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3546321369976042990-3631478237751830437?l=shantigriya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shantigriya.blogspot.com/feeds/3631478237751830437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/tri-gunas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/3631478237751830437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/3631478237751830437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/tri-gunas.html' title='TRI GUNAS'/><author><name>Shantigriya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15407283631930615521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/Sn5Q764RS3I/AAAAAAAAAA8/9J66-9fAPzg/s72-c/tri+gunas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3546321369976042990.post-3015991424064941734</id><published>2009-08-01T23:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T22:52:41.844-07:00</updated><title type='text'>SEMESTA BERSANGGAMA</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dharma mengajarkan bahwasanya manusya berasal dari leluhur yang disebut para&lt;br /&gt;dewata, sains modern mulai meneliti adakah kaitan manusya dengan manusya, atau&lt;br /&gt;mahluk-mahluk angkasa luar. Tubuh manusya ternyata adalah sebuah perpustakaan,&lt;br /&gt;ibarat chip computer kecil yang memuat gen-gen semesta, sebuah rahasya yang&lt;br /&gt;sedang menguak! Seperti apakah jati diri dan hakekat manusya di bumi dan peranannya&lt;br /&gt;di semesta raya yang maha luas nan tidak terbatas ini? &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejauh ini seksualitas masih tabu dibicarakan apalagi dimaknai secara spiritual&lt;br /&gt;oleh kaum-kaum agamis tertentu yang terjebak dalam nilai-nilai dosa, kemunafikan&lt;br /&gt;dan “kebodohan” ragawinya sendiri, padahal seksualitas adalah warisan&lt;br /&gt;para dewata, leluhur umat manusya yang menghuni semesta jagat raya. Seksualitas&lt;br /&gt;bukanlah keping-keping pornography murahan dan vulgar, namun adalah intisari&lt;br /&gt;kehidupan Bhagawatam (Ilahi) yang diwariskan dari masa ke masa, dari mahluk&lt;br /&gt;ke mahluk, dari fauna ke fauna, dan dari flora ke flora. Semesta raya bersanggama&lt;br /&gt;dalam ritus-ritus Ketuhanan Yang Maha Esa, Yang Maha Pencipta tanpa harus terliput&lt;br /&gt;dosa-dosa dan noda-noda. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah arca Ganeshya terdapat di candi Hoysala di India Selatan (abad 12), Arca&lt;br /&gt;ini menggambarkan secara Tantrik mistri seksualitas, Sri Gajanana yang kuat&lt;br /&gt;ini, yang melambangkan kedashyatan energi seksual semesta dan manusya. Belalainya&lt;br /&gt;melambangkan keperkasaan sebuah lingga (phalus) dan mulutnya yang terbuka lebar&lt;br /&gt;melambangkan yoni (vagina), perpaduan antara pria-wanita, purusha dan prakriti&lt;br /&gt;baik secara skala maupun niskala. Semua upacara Hindu di India dimulai dengan&lt;br /&gt;puja-puji dan mantram-mantram ke Ganeshya dahulu baru ke dewata-dewata lain,&lt;br /&gt;aneh Tri-sandhya kita malah tidak menyebutnya sama sekali, dan kita pun sering&lt;br /&gt;“tersesat” ke dalam awidya, padahal Negara Indonesia dengan jumlah&lt;br /&gt;penduduk Islam terbesar di dunia meletakkan lambang dewa widya ini di ITB, IPB&lt;br /&gt;dan uang pecahan Rp 20.000 (lama), bahkan seorang SBY sekalipun amat menghormatinya&lt;br /&gt;dengan memulai awal-awal kampanyenya di Sasana Ganeshya di Bandung, Jawa-Barat&lt;br /&gt;untuk apa kalau bukan untuk sebuah kesuksesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ganeshya sebagai lambang spiritual, widya dan seksualitas adalah hasil sinergi&lt;br /&gt;dari Tri-murti dan Trishakti, yaitu pasangan Brahma-Saraswati, Shiwa-Kali dan&lt;br /&gt;Wishnu-Lakshmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brahma-Saraswati memancarkan kehidupan, kelahiran dan kreativitas. Shiwa-Kali&lt;br /&gt;melambangkan transendental spiritual, kematian (daur ulang), Wishnu-Lakshmi&lt;br /&gt;adalah Pengayom dan Pemelihara kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda ketiga prinsip-prinsip utama yang menyatu dalam Ganeshya ini disebut-sebut&lt;br /&gt;para ahli sebagai prinsip-prinsip konsep anthropomorphic, dan ketiga unsur kelahiran,&lt;br /&gt;pemeliharaan dan daur ulang kehidupan ini jelas-jelas terserap ke ajaran-ajaran&lt;br /&gt;lain seperti Buddhisme, Taoisme, Nasrani dan memuncak pada Islam yang melambangkan&lt;br /&gt;seksualitas spiritual dalam bentuk Kabalistik, yang sudah dimulai sebelum Judaisme&lt;br /&gt;dan Nabi Ibrahim hadir di kawasan Timur-Tengah, tidak dapat dipungkiri Ka’abah&lt;br /&gt;adalah wujud bangunan Lingga-Yoni terbesar di dunia semenjak zaman Paganisme&lt;br /&gt;sampai saat ini, Nabi Muhamad S.a.w melestarikannya sesuai wahyu-wahyu yang&lt;br /&gt;didapatkannya dari Allah Subhanawatallah. Dengan kata lain pemujaan ke Lingga-yoni&lt;br /&gt;lambang seksualitas suci masih dilakukan dalam agama Islam dengan puncak ritual&lt;br /&gt;yang disebut Haj (naik Haji), manusya-manusya berpradakshina 7 kali memutari&lt;br /&gt;Ka’abah dengan memakai Ikhram putih-putih, dari jarak ketinggian terlihat&lt;br /&gt;sebagai sperma sperma putih yang mengelilingi lingga dan yoni ini. Pada awal-awal&lt;br /&gt;kehidupan perpaduan pria-wanita yang menghasilkan kelahiran adalah nilai-nilai&lt;br /&gt;tertinggi yang dipuja manusya, sesuai dengan perilaku semesta yang bersanggama&lt;br /&gt;menyatu, setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini ditujukan kepada setiap insan dharmais agar sadar bahwasanya seksualitas&lt;br /&gt;adalah anugrah alam yang menakjubkan, bukan sekedar ilusi-ilusi bohong UUD pornography&lt;br /&gt;yang malahan melecehkan anugrah yang maha tinggi ini yaitu inti sari dari pada&lt;br /&gt;kehidupan ini, yang sering sekali salah disikapi. Selama hadir Bunda Pertiwi,&lt;br /&gt;maka akan hadir juga seksualitas sebagai penerus generasi-generasi berbagai&lt;br /&gt;ciptaan-ciptaanNya. Seksualitas berasal dari semesta, dan menunjang balik ke&lt;br /&gt;semesta itu sendiri melalui proses regenerasi. Untuk itu alam menambahkannya&lt;br /&gt;dengan gairah, nafsu dan makna-makna rahasya yang sering disalah gunakan oleh&lt;br /&gt;manusya yang tidak dapat memahaminya dengan selera spiritual dan widya yang&lt;br /&gt;terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal setiap sanggama mahluk apapun juga apalagi manusya adalah penerusan&lt;br /&gt;dari sanggamanya para leluhur kita, yaitu para dewata. Setiap sperma yang dipancarkan&lt;br /&gt;dan setiap sel-sel ovary (indung telur) mengandung cahaya-cahaya misterius yang&lt;br /&gt;dapat anda saksikan melalui mikroskop. Sanggama antara pasangan adalah medan&lt;br /&gt;magnet yang sakral dan berdaya harmonis atau sebaliknya dapat merusak dengan&lt;br /&gt;potensi yang amat tinggi. Tinggal manusya menentukan seksualitas, akan kebablasan&lt;br /&gt;atau akan dilestarikan (perang antara dewata dan asuras) berlangsung terus di&lt;br /&gt;dalam diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap-tahap spiritual tertinggi, pasangan suami istri bahkan tidak perlu&lt;br /&gt;menyentuh satu dengan yang lain. Cukup dengan prana (medan magnet tubuh-halus)&lt;br /&gt;masing-masing dapat memuaskan secara lahir dan bathin, (tidak perlu menjadi&lt;br /&gt;tua terlebih dahulu), yang penting dan utama adalah landasan kasih dan spiritual&lt;br /&gt;yang memayungi dan memagarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu aspek terpenting dan terindah, yang mempesona dan mengikat manusya&lt;br /&gt;adalah anugrah seksualitas, bahkan semua ciptaan-ciptaan di semesta raya ini&lt;br /&gt;bersanggama dalam kasih satu dengan yang lain melalui sentuhan-sentuhan Prema&lt;br /&gt;(Kasih Ilahi = Kasih Bhagawatam). Kalau Sang pencipta tidak mengasihi kita dan&lt;br /&gt;seluruh ciptaan-ciptaannya, maka Ia tidak disebut Yang Maha Pengasih, dan tidak&lt;br /&gt;ada kasih tanpa seksualitas spiritual di dalamnya. Dengan kata lain Hyang Widhi&lt;br /&gt;Wasa adalah juga Maha Prema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para leluhur umat Dharmais sangat bertanggung jawab akan nilai-nilai seksualitas&lt;br /&gt;antar pasangan, Weda-weda, Upanishads, Bhagawat Gita, Kamasutra, Garbha widya,&lt;br /&gt;dan Tantraisme penuh dengan rambu-rambu ketat agar kita tidak bersetubuh secara&lt;br /&gt;serampangan dan nafsu-nafsu liar harus dijinakkan melalui lembaga vivaha (kemenangan),&lt;br /&gt;melalui upaya-upaya yoga, meditasi dan vegetarianisme, melalui pemujaan-pemujaan&lt;br /&gt;sakral dan bermakna kepada simbol-simbol lingga-yoni yang adalah Simbol-simbol&lt;br /&gt;Purusha dan Prakriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Seksualitas-spiritual yang terkendali secara prima dapat menghasilkan sebuah&lt;br /&gt;bentuk-bentuk pengalaman-pengalaman seksual secara multidimensional. Itulah&lt;br /&gt;sebabnya di masa-masa lalu sanggama pasangan suami istri diatur pada hari senin&lt;br /&gt;(harinya Shiwa) dan kamis (harinya shakti Durga), yang diawali puasa-puasa ringan,&lt;br /&gt;upacara meditasi dan puja bersama-sama suami istri dan pada masa-masa lalu ejakulasi&lt;br /&gt;dini maupun orgasme wanita yang tertunda bukan masalah, karena tubuh manusya&lt;br /&gt;begitu kuat sehingga dalam semalam sanggama dapat belangsung berkali-kali penuh&lt;br /&gt;gairah seksualitas tinggi yang terkendali apik, dan indah, harmonis dan romantis.&lt;br /&gt;Pasangan suami istri tidak perlu gagah atau cantik, yang vital adalah teknik-teknik&lt;br /&gt;Kamasutra, mantram-mantram dan pemahaman akan betapa indahnya seksualitas, dan&lt;br /&gt;betapa menakjubkan makna-maknanya. Jurus-jurusnya: hormatilah tubuhmu, hormatilah&lt;br /&gt;tubuh pasangannmu, beraktivitas seksual harus dilandasi “suka sama suka”,&lt;br /&gt;bukan karena terpaksa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena energi seksual adalah energi kehidupan ini, setiap pria dan wanita adalah&lt;br /&gt;reinkarnasi agung dari para leluhur dewa dewi yang jumlahnya tak terjabarkan,&lt;br /&gt;kita semua adalah perwujudan dewa-dewi ini, kita semua ciptaan adalah bagian-bagian&lt;br /&gt;dari semesta dan penunjang-penunjangNya. Dia Yang Maha Seksualitas adalah sumber&lt;br /&gt;dari berbagai medan magnet seksualitas dalam bentuk-bentuk purusha (unsur-unsur&lt;br /&gt;positif) dan prakriti unsur-unsur negatif yang selaras, tanpa dualitas ini tidak&lt;br /&gt;ada sanggama (pertemuan) apapun juga. Perhatikan kata sanggama (sanggam) yang&lt;br /&gt;berarti pertemuan dua kutub yang sakral, penuh dengan kehidupan yang lestari&lt;br /&gt;bagi semua dan sesama secara harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas semesta menghadirkan rekayasa genetika (blue-print, cetak-biru)&lt;br /&gt;dalam jiwa raga kita secara sistematis dan alami, ini adalah mahakarya alam&lt;br /&gt;yang belum difahami sebagian amat besar umat manusya, tetapi mulai tersibak&lt;br /&gt;dalam sains modern. Seluruh sistem karma dan reinkarnasi tertata secara rapi&lt;br /&gt;dalam tubuh kita tanpa dapat dapat diganggu gugat, dari satu kelahiran ke kekelahiran&lt;br /&gt;yang lain. Bhagawat Gita dan Upanishads menyatakan secara tegas bahwasanya seluruh&lt;br /&gt;memori-memori dibawa mati untuk dipacu ulang pada masa kelahiran-kelahiran berikutnya,&lt;br /&gt;dan ini bukan teori tetapi kenyataan-kenyataan yang mengagumkan. Penelitian&lt;br /&gt;penelitian dan film-film Barat mulai menguak dunia ini perlahan tapi pasti.&lt;br /&gt;Reinkarnasi dan hukum karma secara pasti eksis, walaupun disebut-sebut dengan&lt;br /&gt;nama-nama yang berbeda-beda dalam setiap ajaran agama-agama maupun spiritual,&lt;br /&gt;hanya makna dan keterangannya yang sering kabur karena tidak disertai widya&lt;br /&gt;(pengetahuan) yang memadai dan selaras, sesuai zaman dan latar belakang kebudayaannya&lt;br /&gt;dan teknologi masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orgasme adalah pancaran energi yang amat menyehatkan, seks yang aktif ternyata&lt;br /&gt;amat menyehatkan, mengurangi stress dan sakit-sakit kepala, menambah gairah&lt;br /&gt;kerja dan spiritual sekaligus menjauhkan manusya dari kanker rahim, payudara,&lt;br /&gt;dan prostat, kesemuanya lalu menunjang usia tua yang sehat bugar. Leluhur membuktikannya&lt;br /&gt;dengan anak-anak yang banyak sampai masa tua; pada masa lalu beranak 20 masih&lt;br /&gt;disebut wajar-wajar saja, dan hal itu menunjukkan betapa perkasanya pasangan-pasangan&lt;br /&gt;suami istri yang setia dan aktif sampai tua. Semua berkat ajaran Ayur weda,&lt;br /&gt;yoga, meditasi, ajaran-ajaran Tantra dan Kamasutra yang berpayung pada landasan-landasan&lt;br /&gt;Dharma yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orgasme spiritual berbeda dengan orgasme/ejakulasi ragawi. Menurut Tantraisme,&lt;br /&gt;setiap kali seorang pria berejakulasi maka “oja” (prana + seksual&lt;br /&gt;energi) akan berkurang, namun hal ini masih tanda tanya karena orgasme di sisi&lt;br /&gt;lain amat menyehatkan. Dalam yoga dan upaya-upaya meditasi Tantra, terdapat&lt;br /&gt;berbagai teknik-teknik (biasanya di Astanga-yoga) untuk menahan keluarnya sperma,&lt;br /&gt;hal ini dalam kurun waktu yang lama kalau dipratekkan secara teratur dapat menghasilkan&lt;br /&gt;kesaktian-kesaktian dan energi-energi tertentu. Namun Ramayana menunjukkan betapa&lt;br /&gt;Rahwana yang ekstrim tapa-bratanya lalu lepas kendali perilaku seksualnya setelah&lt;br /&gt;melihat kemolekan Dewi Shinta. Di lain sisi Shiwa dan resi Viswamantra langsung&lt;br /&gt;keluar spermanya begitu lepas dari tapa ribuan tahun, karena tidak tahan melihat&lt;br /&gt;paha molek nan seksi para betari. Jadi sebenarnya pemahaman upaya dan hasrat&lt;br /&gt;seksual tidaklah bermanfaat kalau jalan pikirannya malah liar dalam perzinahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya pujalah seksualitas sebagai anugrah Sang Pencipta yang harus dimaknai&lt;br /&gt;setiap sisinya. Eksporasilah jiwa dan raga ini secara sensual dan bermartabat,&lt;br /&gt;penuh hikmah-hikmah yang terkendali, jadikan cinta-kasih sebagai landasan sesuai&lt;br /&gt;hukum-hukum alam yang penuh rasa sayang pada seluruh ciptaan-ciptaanNya, di&lt;br /&gt;planet bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya di semesta raya, setiap momen adalah seksualitas, raga kita dan&lt;br /&gt;semua mahluk memang direkayasa untuk berevolusi melalui sensualitas dan seksualitas.&lt;br /&gt;Bukalah mata dengan memandang dan memaknai semesta, isinya dan berbagai perilakunya.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, tutuplah matamu, menerawanglah ke dalam relung-relung dan&lt;br /&gt;rongga-rongga sanubarimu, dan kita akan menemukan rahasya-rahasya Kundalini&lt;br /&gt;yang akan bangkit secara alami bagi setiap insan yang mampu menyelaraskan setiap&lt;br /&gt;sel, setiap ion-ion tubuh dan setiap tarikan keluar-masuk nafasnya (pranayama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan awal dari Kundalini (energi-energi vital, chakras-chakras energi&lt;br /&gt;seksualitas) dapat menghasilkan siddhi (kekuatan dan persepsi sesat dan menyimpang)&lt;br /&gt;atau widdhi (pengetahuan akan makna-makna kehidupan dan semesta ini) dan kuncinya&lt;br /&gt;adalah seksualitas yang selaras dengan upaya-upaya spiritual. Berbahagialah&lt;br /&gt;akan potensi-potensi seksualitas (kundalini), ia terbangkitkan menjadi mata&lt;br /&gt;ketiga bukan karena ulah guru-guru yoga yang mengaku sakti, tetapi melalui upaya-upaya&lt;br /&gt;selaras dari dirimu yang sarat akan keseimbangan spiritual dan seksualitas,&lt;br /&gt;antara keselarasan purusha dan prakriti, antara lingga dan yoni. Inilah pesan-pesan&lt;br /&gt;yang tersirat dalam arca-arca lingga-yoni, Trimurti dan Trishakti. Upacara terbesarnya&lt;br /&gt;malahan terjadi di Mecca setiap tahun tanpa ada yang sadar akan makna-makna&lt;br /&gt;yang sebenarnya yang telah terkandung pada zaman pra-Islam. Om Shanti-Shanti-Shanti&lt;br /&gt;Om.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Mohan m.s Cisarua Juni-Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3546321369976042990-3015991424064941734?l=shantigriya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shantigriya.blogspot.com/feeds/3015991424064941734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/semesta-bersanggama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/3015991424064941734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/3015991424064941734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/semesta-bersanggama.html' title='SEMESTA BERSANGGAMA'/><author><name>Shantigriya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15407283631930615521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3546321369976042990.post-9143369771033726851</id><published>2009-08-01T07:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T07:50:57.741-07:00</updated><title type='text'>Welcome !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/SnRWDoTaAsI/AAAAAAAAAAU/HH_kB0HnVes/s1600-h/Image01099Y8IZI6X8X7Z58.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 120px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/SnRWDoTaAsI/AAAAAAAAAAU/HH_kB0HnVes/s320/Image01099Y8IZI6X8X7Z58.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365007676463514306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Om Swastiastu&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;Welcome to Shantigriya Ganesha Pooja's new website !&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3546321369976042990-9143369771033726851?l=shantigriya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://shantigriya.blogspot.com/feeds/9143369771033726851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/welcome.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/9143369771033726851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3546321369976042990/posts/default/9143369771033726851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://shantigriya.blogspot.com/2009/08/welcome.html' title='Welcome !'/><author><name>Shantigriya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15407283631930615521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_NNePqUATKPE/SnRWDoTaAsI/AAAAAAAAAAU/HH_kB0HnVes/s72-c/Image01099Y8IZI6X8X7Z58.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
